h1

MemAh@mi C@Ra OtAk Memb@cA

November 19, 2009

Memahami Cara Otak Membaca

Studi menunjukkan meskipun huruf dalam sebuah kata dicampur-adukkan, kita dengan mudah masih bisa mengerti teksnya.

Barangkali pekerjaan terpenting bagi seorang editor adalah memastikan suatu teks adalah sempurna tanpa salah eja. Tetapi apakah teks yang salah tidak dapat dimengerti?

Dalam beberapa pengujian, peneliti mendapati bahwa orang masih bisa mengerti maksud kalimat sekali pun terdiri dari kata-kata yang dicampur-aduk.

Contohnya: We culod sracbmle the wrods in wtehaver form we wsih. As lnog as we awlyas miatiann the odrer of the frist and lsat ltteer the txet wlil sltil mkae snese.

Mungkin Anda sudah pernah melihat contoh diatas, karena paragraf yang diaduk pernah populer di email beberapa tahun lalu. Banyak orang merasa heran mengetahui bahwa kalimat gado-gado seperti itu masih bisa dimengerti dengan sedikit usaha.

Fenomena kata-kata campur aduk ini kali pertama dilakukan oleh penelitian Universitas Cambridge, tetapi siapa sebenarnya yang kali pertama mempelajari hal ini masih menjadi kontroversi. Tanpa memusingkan hal tersebut, sebagian peneliti mengatakan hal ini menawarkan wawasan tentang bagaimana manusia membaca.

Menurut pengertian mereka, kemampuan kita mengerti contoh kalimat yang dicampur-adukkan di atas menunjukkan bahwa pikiran kita mengartikan kata-kata sebagai keseluruhan dan bukan huruf per huruf.

Jadi apakah kemampuan kita yang mengartikan salah eja yang kacau itu, setidaknya bagi mereka yang sudah dapat membaca, yang eksis dalam tingkatan bawah sadar pada memori manusia?

Kita diajar untuk membaca dengan irama – menggunakan suara abjad untuk mengerti kata yang tak dikenal.

Setelah itu perlahan kita tidak begitu mengandalkan sistem irama untuk mengenali kata karena perbendaharaan kata semakin meningkat tersebut perlahan masuk ke dalam ingatan. Akhirnya, kita tidak lagi harus melafalkan kata-kata, karena otak kita sudah langsung dapat mengenali kata-kata yang kita ketahui.

Peneliti terus menguji teori linguistik ini dengan tingkat kesalahan bahasa yang semakin meningkat. Sudah diketahui bahwa teks yang kacau masih bisa dimengerti sekalipun beberapa hurufnya salah. Ekperiman iti sangut bagas: itu membaktakan bagumana pikuran munusia menata teks dalm bntuk umum.

Ide ini bahkan telah dibawa ke tingkat yang sangat ekstrim, seperti eksperimen berikut yang mana teks dapat dimengerti dengan benar meskipun spasi diantara kata-kata dipakai dengan acak di dalam seluruh teks,

Contohnya: Fak tapene litiani nite lahdiker jakano lehUniver sitasHu nga ria.

Meskipun dalam contoh di atas semua huruf ditata dengan benar, tetapi ternyata hal ini lebih sulit untuk diartikan dibandingkan dengan kata yang dicampur-adukkan.

Sebagian orang percaya bahwa ini adalah bukti cara kerja otak manusia. Kalau suatu huruf hilang atau salah diletakkan, otak manusia cenderung mengabaikan kesalahan dan fokus pada pesan secara umum.

Tetapi jika struktur pokok teks diganti, seperti contoh terakhir, otak manusia harus bekerja keras menata kembali kata-kata yang tidak dikenali itu dari pebendaharaan kata gabungan kita.

Contoh dibawah ini membuktikan bahwa suatu nomor dapat digabungkan ke dalam kata-kata kita (meniru abjad kita) dan kita masih dapat dengan benar menerjemahkan pesannya. Teks berikut menceritakan kisah dua orang anak:

“P4D4 5U47U H4R1 54Y4 83R4D4  D1 P4N741 M3NG4M471 DU4 4N4K 518UK M3M84NGUN 1574N4 P451R. K371K4 S3L3S41, 0M84K D474NG M3NY4PU & M3NGH4NCURK4NNY4, 71NGGAL H4NY4L4H GUNDUK4N P451R & 8U1H 0M84K. 54Y4 M3NG1R4 K3DU4 4N4K 17U 4K4N M3N4NG1S, T3RNY4T4 M4L4H 83RL4R1 M3NUJU P4NT41 & M3ND1R1K4N 15T4N4 P4S1R L4G1.

K174 M3NGH4815K4N B4NY4K W4K7U UN7UK 5U47U H4L, L4LU G3L0M84NG D474NG M3NGH4NCURK4NNY4, Y4NG T3R5154 H4NY4L4H P3R54H48474N, C1N74 K451H, P3RH4714N & P3RT0L0NG4N D4R1 0R4NG-0R4NG  Y4NG 8154 M3M8U4T K174 T3RS3NYUM”

Teks di atas seolah sulit untuk dipahami pada awalnya, tetapi sudah terbukti bahwa pikiran manusia bisa menterjemahkan dengan benar campuran kata dan huruf yang aneh ini. (Leonardo Vintini/The Epoch Times/pls)

*sumber: Epoch Times –  Jumat, 13 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: