h1

Garam dan Telaga

August 28, 2011

Pada suatu masa hiduplah seorang pak tua yang bijak. Pada suatu pagi datanglah seorang pemuda yang sedang dirundung berbagai masalah.
Langkahnya gontai dan raut wajahnya begitu muram. Pemuda itu memang tampak begitu tidak bahagia.

Tanpa membuang waktu, pemuda itu menceritakan semua masalahnya kepada pak tua. Pak tua yang bijak hanya mendengarkan dengan seksama.
Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta pemuda tersebut mengambil segelas air. Ditaburkan garam tersebut kedalam segelas air kemudian diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakana bagaimana rasanya”, ujar pak tua .
“Asin.Asin sekali”, jawab pemuda tersebut sambil meludah kesamping.

Pak tua itu tersenyum dan mengajak pemuda tersebut berjalan ketepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang ituberjalan berdampingan dan akhirnya sampailah di tepi telaga yang tenang tersebut.
Pak tua lalu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga tersebut.
Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan terciptalah riak-riak air, mengusik ketenangan pada telaga tersebut.

“Coba ambil segelas air dari telaga tersebut dan minumlah”, ujar pak tua.
Saat pemuda tersebut selesai menengguk air, pak tua bertanya kembali.
“Bagaimana rasanya”.
“Segar”, sahut pemuda tersebut.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air tersebut”, Tanya pak tua lagi.
“Tidak”, jawab pemuda.

Dengan bijak, pak tua menepuk-nepuk punggung pemuda dan duduk di tepi telaga dan berkata.
“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang tetap sama.
Tapi kepahitan yang kita rasakan akan tergantung pada wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat dimana kita meletakkan segalanya. Itu semua tergantung pada hati kita.
Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam kehidupan, hanya satu hal yang bisa kita lakukan. Lapangkanlah dadamu dan terimalah semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu”.

Pak tua lalu memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi janganlah jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam semua kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: